Narjamahkeun kana Basa Sunda18

Kamis, 16 Maret 2006
RSUD Syamsudin, S.H. Menjadi RS Rujukan Flu Burung
Reporter : Deden Dendayasa
 
Mengantisipasi dan menangggulangi merebaknya kasus Flu Burung di Indonesia perlu segera diambil langkah, melalui penyebaran informasi penyakit tersebut, agar masyarakat tidak panik, akan tetapi tetap waspada. Flu burung merupakan penyakit influenza yang pada umumnya menyerang segala jenis unggas, disebabkan oleh virus influenza tipe A ( H5N1) dari family Orthomyxoviridae (Avian Influenza/AI).
Virus ini dapat menimbulkan gejala penyakit pernafasan pada unggas, mulai ringan sampai yang bersifat fatal dan dapat menular pada manusia. Sejumlah negara telah tertular penyakit ini dan bersifat pandemi di benua asia seperti Korea Selatan, Jepang, Vietnam, Thailand, Taiwan, Kamboja, Hongkong, Laos, China dan Pakistan serta Indonesia. Di Indonesia sendiri, flu burung mulai masuk sekitar Oktober 2003. Dalam kurun waktu 7 tahun terakhir penyakit flu burung, cenderung meningkat dan berakibat kematian pada penderitanya, maka berbagai upaya perlu dilakukan dalam penanggulangannya, mengingat flu burung tersebut berpotensial sebagai wabah pandemi yang dapat berdampak besar terhadap masyarakat. Upaya mengantisipasi merebaknya penyakit flu burung ini, Gubernur Jawa Barat, telah mengambil langkah langkah terobosan melalui dinas instansi terkait, dengan gencar melakukan sidak ke daerah kota kabupaten, sekaligus mensosialisasikannya tentang indikasi bahaya penyakit flu burung dan cara penanggulangannya, sebanyak lebih kurang 19 rumah sakit di Jawa Barat, termasuk rumah sakit Syamsudin SH, ditetapkan sebagai salah satu rumah sakit rujukan inter medite bagi pasien pengidap flu burung, avian influenza ( AI) , untuk wilayah barat dan selatan daerah Jawa Barat. Karena menurut gubernur Jawa Barat, H. Dany Setiawan MSi , rumah sakit milik pemda kota Sukabumi ini dinilai telah memiliki fasilitas memadai, seperti 4 klas ruang isolasi, peralatan medis serta laboratorium. Menurut Direktur RSUD. Syamsudin SH, dr. Suherman, MKM, pihaknya akan melayani perawatan intermediate pada pasien penederita AI dari kota/kabupaten Sukabumi dan Cianjur. “ Sebelumnya empat ruangan isolasi ini sengaja dibangun untuk pasien HIV, AIDS, Sars, Napza dan penderita kejiwaan, namun kami siap melayani pasien AI dengan perawatan intermeadite, hanyak kami belum memiliki pentilator “, ujarnya. Dijelaskan Dr. Herman, pihaknya belum bisa membeli pentilator karena harga barang tersebut mencapai Rp 500 juta, sehingga beliau berharap, agar pemerintah dapat menyediakan alat tersebut, ´Jika sebelumnya penderita AI harus dirujuk ke Rumah Sakit Suryanti Saroso Jakarta dengan biaya Rp 10 sampai Rp 12 juta, kini bisa dirawat di RSUD Syamsudin SH, meski demikian jika kondisinya sudah tidak bisa ditangani , maka merujuk ke RS Suryanti Saroso “ujarnya. Lebih lanjut dr. Suherman, MKM, berharap agar pemerintah dapat menanggung biaya pengobatan pasien AI, jangan sampai dibebankan ke rumah sakit, karena sesuai dengan komitmen pemerintah dalam menanggulangi penyakit yang mengancam jiwa ini. Kepala seksi kesehatan hewan pada Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Sukabumi, Drh. Ate Rachmat, pihaknya telah melakukan upaya maksimal, pencegahan merebaknya virus AI dari daerah tetangga kabupaten ke Kota Sukabumi, bukan saja akan terancam, tapi malahan akan tertular AI, mengingat jaraknya sangat dekat, karena Kabupaten Sukabumi merupakan salah satu daerah yang telah terindikasi AI. “Kami telah melakukan dua kali penyemprotan desinspektan di beberapa kandang peternak pasar unggas, juga memberikan vaksin, bahkan bulan ini, kami canangkan sebagai bulan dissinspektan, seluruh unggas milik peternak dan pedagang melakukan penyemprotan pada setiap kendaraan pengangkut ternak yang melintasi kota Sukabumi“, ungkapnya. Menyinggung masalah penanggulangan penyakit AI di Kota Sukabumi, Walikota, H. Mokh. Muslikh Abdussyukur, S.H., M.Si. menegaskan dalam waktu tidak terlalu lama, akan mengupayakan penyempurnaan sarana prasarana gedung isolasi yang diperuntukkan mengisolasi pasien-pasien penyakit menular AI, Sars, HIV, AID dan gangguan jiwa, namun menurut penilaian tim dari jawa barat, gedung yang hampir rampung ini perlu disempurnakan, termasuk pengadaan pentilator yang harganyamencapai Rp 500 juta. Dan Walikota Sukabumi, berjanji akan membantu alat sangat vital tersebut, karena RSUD Syanssudin baru memiliki 2 unit dan itupun yang satu sudah tidak laik pakai (rusak).